Nama : Bella Indah Crisfana
Kelas : XII MIPA 09
No Urut : 06
Purbalingga Jawa Tengah, tempat saya memulai kisah perjalanan hidup
dimana tanggal 24 Januari 1916 saya dilahirkan dan kemudian dibesarkan di kota
ini. Sejak kecil saya diasuh oleh ayah dan ibu dari keluarga Tjokrosoenaryo. Mereka yang memberi nama
Soedirman, nama yang sampai sekarang saya gunakan dan saya jaga. Ayah saya
bekerja sebagai camat di desa kami hingga pensiun dan kemudian kami pindah ke
Cilacap. Tetapi ekonomi di Cilacap tidak sebaik saat kami masih di Purbalingga.
Kehidupan dengan suasana yang penuh kesederhanaan setiap harinya, selalu
berusaha yang terbaik untuk kebutuhan sehari-hari.
Di masa sekolah saya termasuk murid yang menonjol, tentu saja bukan
karena menjadi murid terpandai tetapi berkat ketekunan, keuletan, kedisiplinan
dan kegiatan organisasi yang selalu diikuti untuk menambah pengalaman. Tepat
berusia tujuh tahun saya didaftarkan di sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS)
pada tahun 1930 setingkat dengan sekolah dasar di Cilacap dan pada saat itu
dikenal dengan sekolah pribumi atau sekolah guru. Anak-anak pribumi bersekolah
disana, tentu saja karna anak pribumi tidak bisa disatukan dengan anak-anak
bangsa Belanda. Selama menempuh pendidikan disini, saya turut serta
dalam kegiatan organisasi Pramuka Hizbul Wathan.
Tahun 1932 saya memasuki Meer Uitgebreid
Logere Onderwijs (MULO) yang setingkat dengan SLTP. Setelah enam tahun
mengenyam pendidikan di sekolah dasar saya melanjutkan ke sekolah menengah
milik Taman Siswa selama satu tahun. Karna banyaknya masalah perizinan sekolah,
Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak
terdaftar. Pada tahun kedelapan saya
pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo untuk melanjutkan pendidikan hingga
lulus. Saya sangat menunjukkan minta yang besar dalam pelajaran bahasa inggris,
ilmu tata Negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan dan agama islam. Hingga
teman teman sekolah memanggil saya “si kaji”.
Mengikuti organisasi sangatlah melatih
kepemimpinan, kedisiplinan dan tanggung jawab. Organisasi yang Hizbul Wathan
tempat dimana kepribadiaannya dilatih untuk menjadi lebih bijaksana. Pelatihan
yang diberikan merupakan bentuk hal yang harus dilakukan untuk membentuk
kepribadian.
Di usia 18 tahun pada tahun 1934, saat
beranjak dewasa, beberapa kenyataan berdatangan untuk memulai kisah kehidupan.
Dimulai pada saat itu Ayah dan Ibu memanggil untuk berbicara di ruang tamu.
Wajah serius tampak diraut wajah yang tak bisa diartikan. Hingga saat Ayah
mengeluarkan beberapa patah kata tentang kenyataan yang cukup pahit. Tentang
orang tua yang selama ini merawat dan membesarkan adalah orang tua angkat yang
mengadopsi saat kecil.
Ayah bilang bahwa saat itu Ibu tak bisa
punya anak hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membesarkan anak saudaranya.
Mereka adalah pasangan Karsid Kartowiroji dan Siyem. Saya dilahirkan di desa
Bodaskarangjati, Purbalingga. Sejak kecil, sudah menjadi anak angkat Keluarga
Tjokrosoenaryo, dengan harapan agar kelak bisa bersekolah dan diharapkan
menjadi orang terpandang, berguna bagi agama, masyarakat dan negara. Istri
Tjokrosoenaryo atau ibu saya sekarang itu tidak lain adalah kakak dari Siyem.
Menjelaskan hal itu membuat mereka berdua meminta maaf karna memberitahu itu
sekarang. Hingga yang lebih menyayat hati ketika aku mendengar bapak kandungku
sudah berpulang dan ibu pergi untuk menikah lagi. Sedih rasanya tak bisa
bertemu dan menggenggam tangannya, mengetahui fakta saat diusia dengan emosi
tak stabil membuat menjadi lebih menyakitkan.
Beberapa kali mencoba untuk mencari ibu
kandung tapi entahlah, takdir tak pernah berpihak hingga akhirnya saya
mengikhlaskan untuk melanjutkan hidup menerima kenyataan. Hanya beberapa
informasi tentang bapak dan ibu yang saya tahu. Tentunya beliau hanya rakyat
biasa. Karsid bapak kandung saya adalah seorang pemuda, anak keluarga petani di
Desa Tinggarwangi atau lebih dikenal dengan Desa Gentawangi, Kecamatan
Jatilawang. Siyem ibu kandung saya seorang gadis berasal dari Desa Parakan
Onje, Ajibarang. Kisah pertemuan antara Karsid dan Siyem sangatlah sederhana
pada saat musim panen di daerah Banyumas. Pada waktu musim panen padi itu
banyak buruh yang membantu memotong padi atau membersihkan batang padi atau
damen. Jika musim panen tiba, dapur sehari-hari dan juga panganan-panganan atau
pun minuman dawet. Sebagai penjual grabadan, kalau sore hari ia baru pulang ke
rumah dengan membawa padi sebagai hasil barter. Sementara bapa biasa bekerja di
sawah.
Beberapa tahun kemudian ayah saya,
Tjokrosoenaryo meninggal dunia. Walaupun ia adalah seorang ayah angkat bagi
saya itu tidak mengurangi sedikitpun pernghargaan untuknya. Banyak jasa yang
diberikan dan tak bisa dibalas sehingga saya sangat menghormatinya. Bagi saya
apa yang telah dilakukan oleh orang tua kandung dan orang tua angkat sekarang
adalah bentuk kasih sayang dan cinta. Ayah dan ibu yang menyekolahkan dan
membesarkannya.
Memutuskan untuk menerima dan menghadap ke depan. Orang tua yang selama
ini membesarkan saya dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan sesuatu dan hanya
ingin melihat anak semata wayangnya ini sukses. Dalam kehidupan yang sederhana
ini Ayah dan Ibu selalu mendidik untuk
menjadi orang yang disiplin dan pekerja keras. Seperti petuahnya yang selalu
saya ingat “Jadilah seseorang yang bertanggung jawab baik dalam hal-hal kecil,
mulai dari menepati waktu dan belajar menggunakan uang saku sebijak mungkin.
Bagilah waktumu sebaik mungkin , jagalah selalu sopan santunmu diamanapun berada
dan bersama siapapun.”. Mereka selalu berjanji untuk selalu menjaga dan
mendukung keputusan anaknya baik di kehidupan pribadinya dan semangat anaknya
untuk bangsa.
Diusia yang sudah terbilang dewasa, berumur 20 tahun waktunya memulai
hidup baru saya bertemu dengan Alfiah. Seorang wanita berparas cantik manis
menarik hati tak lupa kepribadiannya yang sabar dan telaten. Alifiah teman
sekolah dahulu di Wiworotomo yang dulunya ia adalah bendahara di himpunan
siswa, bertemu lagi setelah beberapa tahun. Putri dari seorang pengusaha kaya
dan terkenal yaitu pengusaha batik bernama Raden Sastroatmojo. Rasa suka
tumbuh di hati satu sama lain, sempat tidak direstui karna status keluarga yang
tidak sesuai ekspektasi sang mertua. Berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan
hati. Akhirnya pada tahun 1936, saya direstui untuk menikahi Alfiah rasa senang
di dada memuncak, bahagia tiada duanya. Setelah menikah kami tinggal di rumah
sang mertua di Cilacap untuk menabung dan mengurangi biaya pengeluaran. Saya
berjanji pada Alfiah untuk membangun rumah sendiri tempat tinggal untuk bersama
anak-anak nanti kelak.
Sudirman dan Alfiah, orang-orang bilang kami
pasangan yang serasi. Berusaha sebaik mungkin membina rumah tangga agar sesuai
dengan kodratnya. Akhirnya impian kami juga tercapai mempunya rumah sendiri
untuk tempat tinggal. Saling pengertian dan
menanggung beban bersama. Serta pemahaman akan agama tercermin ketika
memperlakukan perempuan sebagai istri atau laki-laki sebagai suami dan mendidik
putra-putri buah kasih dengan kasih sayang. Di sinilah keharmonisan muncul, dan
itu menjadi modal dalam membangun kehidupan rumah tangga, berbangsa dan
bernegara yang kuat. Dikaruniai anak untuk dijaga dan di rawat.
Tiga orang putra kami yaitu si sulung Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang
Tjahjadi, dan Taufik Effendi. Serta empat orang putri yaitu Didi Praptiastuti,
Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum.
Alfiah adalah perempuan Jawa yang menjunjung sekali pepatah lima jari seperti dalam Kitab Serat Centini. Jempol atau pol ing tias, seorang istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami. Telunjuk atau penuduh, seorang istri jangan sekali-kali berani membantah thudung kakung. Jari tengah atau penuggal, seorang istri harus selalu menunggalkan suami dan menjaga martabat suami. Jari manis mengiaskan, istri harus tetap manis air mukanya dalam melayani suami. Jelentik atau kelingking mengiaskan athak ithikan, terampil dan banyak akal dalam melayani suami. Itulah yang selalu ia pegang erat untuk keluarga. Sesungguhnya ia orang yang sangat sederhana meskipun dari keluarga berada. Alfiah mau hidup susah dan senang ditanggung bersama.
Seperti ucapan saya dulu sebelum melamarnya, “Siap hidup sengsara bukan berarti akan disengsarakan. Siap hidup sengsara, artinya menyediakan kesiapan mental ketika benar-benar menghadapi ketidakberuntungan dalam hidup”. Ia kemudian tersenyum dan siap menjalaninya.
Pada tahun 1936 awal pemerintahan Jepang
sekolah Muhammadiyah tempat saya mengajar ditutup. Tetapi hal itu tentunya
tidak membuat menyerah begitu saja. Akhirnya sekolah itu dibuka kembali. Saya
memutuskan untuk mengajar di kembali di sekolah dasar Muhammadiyah. Mengabdikan
diri menjadi guru HIS Muhammadiyah, Cilacap dan pemandu di organisasi Pramuka
Hizbul Wathan dengan tujuan rakyat pribumi bisa mendapatkan pelajaran yang
pantas. Karena dimana saat itu pribumi akan sangat susah mendapat pelajaran
yang berharga ini karna keegoisan sang penjajah. Ditemani dengan sang sahabat
Dimyati, kami juga mengajar ngaji. Pengajian keliling ini tidak hanya untuk
warga Cilacap saja tetapi ke daerah lain seperti di Rawalo, Jatilawang, Wangon,
Kesugihan, Patikraja, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Brebes, dan
temanggung.
Sebagai guru, sudah sepatutnya mengajarkan
murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para
rasul dan kisah wayang tradisional. Meski bergaji kecil, bagi saya tidak
masalah dan tetap mengajar dengan giat. Dalam beberapa tahun saya diangkat
menjadi kepala sekolah meskipun tidak memiliki ijazah guru, karna bagi saya
ilmu yang baik ketika disampaikan dengan hati dan mengarahkan ke hal yang
positif. Penjajahan yang tak ada hentinya menggerakkan hati saya untuk merubah
pola pikir untuk melawan para penjajah tidak hanya dengan fisik tetapi dengan
otak. Saya tetap mengajar berusaha sekuat tenaga agar semua anak Indonesia
dapat belajar dengan layak. Mengahadapi banyak hal, walaupun harus bersembunyi
dalam memberikan ilmu bagi saya itu adalah bentuk hal kecil untuk mencapai
kemerdekaan. Selama mengajar, orang bilang saya menakutkan, wajah tegas membuat
saya sangat disegani oleh masyarakat.
Hingga pada zaman penjajahan Jepang tepatnya
tahun 1943, saya diangkat oleh pemerintah Jepang sebagai anggota Syu Sangikai
atau semacam dewan pertimbangan keresidenan di Banyumas. Pertengahan bulan
Oktober Jepang merasa terdesak oleh sekutu dan mereka mengumumkan untuk
membentuk Tentara Pembela Tanah Air. Saya kemudian ditunjuk untuk bergabung
dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Sehubungan dengan posisi di
masyarakat yang cukup banyak mempercayai kinerja saya selama ini dalam memimpin
organisasi. Saya dijadikan sebagai komandan (daidanco) dan dilatih bersama
orang lain yang memiliki visi dan misi yang sama begitu juga memiliki pangkat
yang sama.
Sebagai seorang perwira yang menjaga bangsa
tentu saja tidak membuat saya untuk melupakan keluarga di rumah. Orang-orang
yang mendukung saya di saat kesusahan. Sebelum kembali bertugas tak sengaja
saya lihat toko persediaan yang menjual banyak hal, mulai dari perlengkapan
sehari-hari, perlengkapan kecantikan, baju untuk sehari-hari. Teringat istri
dan anak di rumah, saya tau terkadang sulit membagi waktu untuk keluarga disaat
seperti ini saat bangsa tidak baik-baik saja. Alfiyah seorang diri membesarkan
anak-anak saat saya sedang bertugas. Maka dari itu saya sempatkan membeli
beberapa barang baru untuk keluarga dan pulang menemui istri dan anak-anak
tersayang.
"Apa
yang bapak bawa?" tanya Alfiah waktu itu.
"Baju
dan bedak, Bu. Soalnya kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup,"
seraya membuka bungkusan. Kuserahkannya baju dan berkotak-kotak bedak itu.
"Buat
apa bedak sebanyak itu?" Alfiah tercengang dibuatnya. Kaget campur senang.
"Biar
bagaimanapun, Ibu harus tetap terlihat cantik,".
"Tapi
satu dus saja bisa untuk sebulan lebih, Pak," ujar Alfiah, seraya menyeka
sudut matanya. Terharu dengan apa yang telah ia lihat. Dalam keadaan serba
sulit, saya harus tetap memperhatikan keperluan sang istri. Selain bedak,
saya juga membelikan baju. Dipeluknya baju itu. Tercium wangi baju baru. Untuk
beberapa saat, Alfiah hanya bisa terdiam. Kehabisan kata-kata. Alfiah tak kuasa
untuk tidak menitikan air mata. Sayapun memeluknya.
"Kau
senang, Bu?" tanyaku. Alfiah tak menjawab, hanya mengangguk. Tangannya
sibuk menyeka air mata.
"Kita
dianugerahi anak-anak. Lalu, kau menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus
anak-anak dan rumah tangga. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Tetapi
kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup mengabulkannya."
"Aku
menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga, tetapi bapak
menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Maka, kalaupun ada
penghargaan yang aku terima, aku akan serahkan penghargaan itu kepadamu, Pak.
Sebab tugas dan tanggung jawab bapak jauh melampaui kemampuan bapak sendiri.
Aku masih bisa istirahat di antara waktu anak-anak istirahat, tetapi bapak
hampir tak bisa istirahat di antara waktu para prajurit istirahat,"
sambung Alfiah. Setelah itu kami akhirnya bercengkrama berbicara sedikit dengan
anak-anak bercerita tentang hal-hal lucu.
Pasca Indonesia merdeka dari penjajahan
Jepang, kami berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Kemudian saya
diamanahkan dan diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya setelah
menyelesaikan pendidikan. Selama menjadi komandan saya berusaha untuk
memperhatikan kesejahteraan para bawahan. Saya tidak takut jika ada opsir-opsir
Jepang yang melakukan kejahatan karna saya akan selalu menentangnya. Karena hal
itu membuat pemerintah Jepang takut. Sehingga setelah pemberontakan Tentara Di
Blitar pada bulan Februari, pemerintah Jepang melakukan pengawasan pada perwira
PETA, yang bersikap melawan akan dikategorikan melawan.
Pada bula Juli, saya dan beberapa rekan saya
di perwira PETA dimasukkan ke dalam kategori “berbahaya”. Hal ini dikarenakan
bagi kami, mengikuti Jepang adalah hal yang salah. Kami kemudian dipanggil ke
Bogor untuk alasan akan mendapatkan pelatihan, padahal mereka ingin membunuh
kami karena merasa terancam. Untungnya hal itu tidak terlaksana karena pada
tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu. Hal itu membuat saya
sangat bersyukur dan cukup senang karna kemerdekaan semakin dekat.
Tibalah saatnya pada tahun 1945 Indonesia
mengikrarkan proklamasi, saya dan beberapa rekan melarikan diri ke Jakarta
untuk menemui Presiden Soekarno. Sang Proklamator menugaskan saya untuk
mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas yang dilakukan
setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Bersama dengan residen Bnyumas, Mr. Iskag Tjokroadisuryodan beberapa
tokoh lainnya, kami melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara
damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata cukup
banyak, sehingga BKR Banyumas menjadi salah satu kesatuan yang memiliki senjata
terlengkap dan kemudian senjata itu didistribusikan ke berbagai daerah.
Bulan Oktober, mendaratlah tentara pasukan
Inggris di Semarang mereka bertujuan melucuti tentara Jepang dan kemudian ke
Magelang untuk membebaskan orang belanda yang menjadi tawanan. Tetapi tentara
Inggris tidak mau meninggalkan kota Magelang, hingga terjadilah perang. Pasukan
Inggris pergi secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang menuju Ambarawa. Dalam
pertempuran itu pemimpin pasukan Letnan Kolonel Isdiman Suryokusumo yang
merupakan tangan kanan saya meninggal, ketika saya diharuskan menghadiri
Konferensi TKR di Yogyakarta. Bagi saya itu adalah kegagalan karna telah lali
menjaga orang-orang saya. Hingga saya berjanji pada diri sendiri atas kejadian
itu, “Saya sangat sedih atas gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Ia salah satu
perwira terbaikku. Mulai saat ini saya aka turun langsung ke lapangan memimpin
pertempuran” Ujarku dengan air mata yang mengalir ke pipi.
Saya menyusun banyak strategi dimulai
tanggal 11 Desember, satu bulan setelah perwira terbaik saya harus berpulang
atas nama perjuangan. Rapat diadakan dengan para Komandan Sektor TKR. Posisi
lawan sudah terjepit ini saatnya bagi kita untuk menghancurkan lawan secepatnya
agar enyah dari Ambarawa. Kita harus bergerak cepat agar kita tidak kehilangan
musuh, bergerak pada malam hari agar mereka tidak mengetahui pergerakan kita.
Malam hari sebelum pergi ke Ambarawa, saya
bergegas ke rumah menghampiri istri dan anak-anak yang saya sayangi. Wajah yang
mengantuk kembali segar melihat ayahnya, tetapi berubah seketika ketika melihat
saya akan pergi untuk berperang. Pamit kepada keluarga dan meminta doa yang
terbaik dari mereka. Memeluk istri dan anak-anak untuk menambahkan semangat dan
kekuatan. Berjanji akan kembali dengan sehat membawa kemenangan untuk keluarga
dan negara.
Sebelum matahari menampakkan wujudnya, tepat
pukul 04.30 serangan mulai dilancarkan. Pertempuran berkobar di sekita
Ambarawa. Suara ledakan dan tembakan menusuk telinga. Pertempuran berlangsung
sengit, memimpin pasukan dengan taktik “Supit Urang” atau pengepungan rangkap
sehingga musuh benar-benar terkurung dan terperangkap. Bertempur 4 hari 4 malam
lamanya korban berjatuhan, darah mengalir ditanah menciptakan ketegangan. Taka
da kata menyerah bagi kami, sebelum musuh dilumpuhkan. Hingga akhirnya musuh
mundur ke Semarang. Mereka tak lagi bisa membalas serangan kami karena sudah
melemah. Pada tanggal 15 Desember 1945, musuh menyatakan menyerah dan
kemenangan berada di tangan rakyat Indonesia. Kemenangan yang gemilang di Medan
Perang Ambarawa menjadikan sesuatu yang berharga bagi Negara. Saya dipilih
sebagai Panglima Besar oleh para Panglima Divisi dan Komandan Resimen.
Pemilihan ini menjadikan saya sebagai Jenderal.
Perkiraan TNI yang menyatakan bahwa Belanda
akan menyerang kembali RI, ternyata benar-benar terjadi. Belanda kembali
melancarkan agresi militernya yang kedua. Pasukan Belanda menyerang Ibukota RI
dan bergerak ke seluruh wilayah Republik. Pada jam-jam terakhir sebelum
jatuhnya Yogyakarta, saya menghadap Presiden. Walaupun dalam kondisi tubuh yang
sedang sakit, namun saya teteap tegar dan semangat untuk Negara.
“Pasukan TNI siap melakukan mengerahkan
kekuatan dan mengeluarkan rencana,” Ucap saya denga hormat.
“Tinggallah saja dikota, kondisimu sedang
tidak baik-baik saja sebuhkan dulu sakitmu.” Jawab beliau dengan cukup
khawatir.
“Tidak apa-apa Pak. Saya kuat memimpin,
tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah saya. Saya akan
tetap berjuang bersama-sama dengan anak buah saya.” Jawab saya dengan semangat
yang berkobar.
Dalam menghadapi Agresi Militer II Belanda
tanggal 19 Desember 1948, Saya mengeluarkan Perintah Kilat yang berisi bahwa
Angkata Perang Belanda telah menyerang Kota Yogyakarta dan lapangan terbang
Maguwo, Pemerintah Belanda telah membatalakan persetujuan genjatan senjata,
semua Angkatan Perang menjalankan rencana untuk menghadapi serangan Belanda. Pada
hari itu juga, saya bergegas meninggalkan Yogya dan memimpin Perang Gerilya
yang berlangsung kurang lebih tujuh bulan lamanya. Dengan tandu saya melakukan
perjalanan gerilya naik turun gunung, masuk hutan keluar hutan,
berpindah-pindah tempat, menyusun strategi sebaik mungkin. Tidak jarang pasukan
kami kekurangan makanan selama berhari-hari. Beberapa perwira tumbang akibat
tidak kuat lagi. Kondisi kesehatan sayapun tidak kunjung membaik karna tidak
bisa makan dengan baik. Dan lagi para tentara Belanda yang melakukan pengejaran
untuk menangkap saya.
Beberapa kekalahan terjadi, tetapi tentu
saja tidak mengurangi semangat pantang menyerah bagi saya dan bawahan saya.
Semua kekalahan dikaji sebaik mungkin secara mendalam, organisasi TNI-pun
diperbaiki merubah menjadi lebih baik. Akhirnya startegi baru ditemukan bernama
strategi perorangan atau attritaion strategi. Strategi ini merupakan strategi
perang jangka panjang dijabarkan dalam organisasi dan system Wehrkreise.
Wehrkreise artinya lingkungan pertahanan,
atau pertahanan daerah. Sistem ini dipakai sejak dari pertahanan pulau sampai
daerah-daerah. Masing-masing komandan diberi kebebasan seluas-luasnya untuk
menggelar dan mengembangkan pertahanan. Wilayah Wehrkreise adalah satu
keresidenan yang didalamnya terhimpun kekuatan militer, politik, ekonomi,
pendidikan dan pemerintahan. Sehingga saya dan seluruh pasukan menggunakan
sistem ini dan disahkan .
Setelah melakukan perjalan panjang ke luar
masuk hutan dan terhindar dari serangan Belanda kondisi sudah mulai membaik.
Akhirnya saya dengan pasukan kami menetap di Dukuh sobo, Desa Pakis, Kecamatan
Nawangan, Pcitan, Jawa Timur. Di tempat ini Keadaan mulai lebih teratur dan
dapat mengadakan hubungan dengan Pejabat Pemerintah di Yogya melalui kurir.
Berbagai perintah dikerahkan dari tempat ini seperti petunjuk, amanat baik
untuk TNI maupun rakyat.
Tanggal 7 Mei 1949, ditandatanganilah
Perjanjian Roem-Royen, Berdasarkan perjanjian ini, akhir Juni 1949, Presiden
dan wakil presiden dan pejabat pemerintah RI yang ditawan Belanda di Pulau Bangka,
dikembalikan ke Yogyakarta. Setelah melakukan gerilya beberapa bulan, saya
akhirnya diminta kembali oleh pemerintah yang disusul oleh jasa baik Gatot
Soebroto, Panglima Divisi 11 yang memiliki hubungan baik dengan saya selama
masa saya bertugas. Ia menganggap saya sebagai adiknya. Awalnya saya tidak mau,
walaupun sebenarnya masalah sudah hamper selesai, tetapi bagi saya kata selesai
ketika semuanya sudah benar-benar kembali normal.
Hingga akhirnya ia mengirimi saya surat,
dengan penuh rasa persaudaraan sebagai adiknya. “Saya memahami pendiirian adik.
Namun kehadiran adik di Surabaya sangatlah diperlukan. Adik hendaknya juga
harus memperhatikan kesehatan adik sendiri. Janganlah lupa untuk beristirahat
dan jangan bekerja terlalu berat. Jangan sampai adik mati konyol, tapi
pikirkanlah bagaimana suapay cita-cita adik tercapai. Meskipun buahnya tidak
dapat dipetik, namun merasa pohonnya subur kita sangat gembira dan mengucapkan
banyak terimakasih kepada Yang Maha Kuasa. Inilah pertama kali saya selaku
saudara tua adik meminta untuk ditaati.” Tulisnya dalam surat tidak resmi itu.
Setelah menimbang surat itu, akhirnya
saya memutuskan untuk mengahargai Gatot Soebroto sebagai seseorang yang sudah
saya anggap sebagai saudara. Sudah lama saya disini, rasa rindu pada keluarga
sudah sangat membendung. Penyakit yang kian semakin parah dan semakin
menggerogoti paru-paru akhirnya memutuskan untuk kembali ke sana. Hingga pada
10 Juli 1949, saya dan rombongan saya memutuskan untuk kembali bersama.
Tak disangka di sepanjang jalan, rakyat
berjejal-jejal menyambut kedatangan kami. Rasa senang terlukis di wajah mereka. Tak hanya itu parade militer, di
alun-alun Yogyakarta pun diadakan. Para perwira lainnya yang selama ini ikut
bergerilya bersama saya tak urung meneteskan air mata. Hingga akhir saat dimana
saya pulang bertemu keluarga, istri dan anak-anak saya sayangi. Beristirahat
untuk penyakit yang kian kronis, rasa rindu yang sudah membendung akhirnya
pecah seketika. Memeluk keluarga untuk mengobati rasa rindu, menepati janji
untuk pulang kepelukan dengan kemenangan.
Teks cerita sejarah yang dibuat sudah bagus, mudah dipahami, dan sesuai struktur dan kaidah kebahasaan 👍🏻
BalasHapusTeks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Cerita tersebut juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Penggunaan bahasa dan pemilihan katanya mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami isi cerita dengan baik ☺️👍
BalasHapusTeks nya sangat menarik dan mudah dipahami,bahasa yang digunakan juga tidak berbelit,kerennnnn👍🏻👍🏻
BalasHapusTeks cerita sejarah yang dibuat sudah sangat bagus karena struktur dan kaidah kebahasaannya sudah sesuai dengan atura yang berlaku. Selain itu cerita yang disampaikan juga menarik
BalasHapusTeks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Penulisan teks sudah baik dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang benar.
BalasHapusgaya bahasa yang digunakan mudah di pahami, alur ceritanya menarik, dan menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benarr
BalasHapusTeks cerita yang dibuat sangat menginspirasi. Terutama pada judul yang sangat menarik peerhatian pembaca.
BalasHapusCeritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍
BalasHapus